Friday, November 9, 2018

Pengalaman Menginap di Cara Cara Inn

Seminggu yang lalu saya dan suami menyempatkan waktu satu malam untuk menginap di salah satu hostel-hotel yang sedang hits baru-baru ini di Bali, tepatnya di Kuta. Hostel-hotel tersebut bernama Cara Cara Inn. Lokasi Cara Cara Inn sendiri ternyata sangat dekat dengan kawasan wisata dan keramaian di Kuta, disekitaran Kuta Square. Bagi yang ingin mencari lokasi hostel ini, menurut saya tidak sulit untuk menemukan lokasinya.

Bagian depan Cara Cara Inn
Bersumber dari website mereka (caracarainn.com), Cara Cara Inn ini memiliki beberapa tipe kamar yang mengakomodasi berbagai tipe traveller, seperti tipe THE CABIN yang merupakan kamar berisi 6 (enam) bunkbed untuk 6 orang dengan 2 (dua) kamar mandi, tipe THE SLEEPER yaitu kamar yang berisi 4 (empat) bunkbed untuk 4 orang dengan kamar mandi pribadi, tipe THE TEEPEE (Single Deck Room) yang cocok untuk para solo traveller lengkap dengan fasilitas smart tv, amenities, dan sebuah kamar mandi pribadi, tipe THE CAMPER (Twin Deck Room) yaitu kamar untuk 2 orang traveller dengan beberapa fasilitas tambahan, tipe THE CAMPER⁺ (Superior Twin Deck Room) yaitu versi lebih luas dari tipe THE CAMPER untuk 2 orang traveller, tipe THE LODGE (Double+1 Room) merupakan tipe kamar yang bisa diisi 3 atau bahkan 4 orang, tipe THE BLOCKBUSTER (Superior+ 1 Room) tipe kamar yang lebih luas dari THE LODGE dan bisa diisi sampai dengan 4 orang, serta tipe THE CARA CARA (Suite Double Room) yaitu kamar untuk 2 orang (opsional bisa diisi 3 orang) dengan luas kamar terluas di Cara Cara Inn dan memiliki sebuah balkon yang menghadap pada kolam renang dan Bali cityscape. Oh iya! Setiap kamar di Cara Cara Inn sudah termasuk free wifi.

Lorong di Lantai 3 Cara Cara Inn
Saya dan suami menginap di kamar dengan tipe THE CARA CARA. Harga kamar tersebut bisa di cek pada website resmi Cara Cara Inn atau melalui aplikasi booking hotel. Beruntung pada saat booking, saya mendapatkan harga promo dari aplikasi booking hotel yang saya gunakan. Pada saat sampai di Cara Cara Inn, waktu itu sore sekitar habis Ashar, saya dan suami langsung menuju ke front desk untuk melakukan check-in. Kemudian kami diberikan akses masuk kamar berupa sebuah wrist band (akses masuknya kekinian) serta 2 (dua) voucer breakfast untuk besok paginya.

Kamar Tipe THE CARA CARA
Kamar tipe THE CARA CARA kami berlokasi di lantai tiga dan tepat berada di depan lift, disamping ruang bermain lantai tiga. Kamar tersebut cukup luas dengan desain modern dan instagramable, sama seperti pada gambar yang ada di website mereka. Ketika memasuki kamar, pintu masuk berhadapan dengan pintu kaca geser (dengan tirai roller blinds) yang mengarah pada balkon dengan pemandangan kolam renang di lantai dua. Lalu di sebelah kiri depan terdapat sebuah king bed dan meja kerja serta cermin untuk menaruh barang-barang. Di sebelah kanan pintu masuk, terdapat mini living room, cermin, dan lemari pakaian dan kamar mandi dengan jendela kecil mengarah ke kolam renang. Tidak jauh dari pintu balkon, terdapat big smart tv yang bisa digeser ke arah tempat tidur atau mengarah pada mini living room. Oh iya! Di balkon terdapat sebuah kursi ayunan berwarna eyecathing khas Cara Cara Inn. Fasilitas lainnya berupa amenities dalam kamar mandi dan dalam kamar, kulkas dan brankas, semua cukup tersedia. Bagi tamu yang muslim, tidak kesulitan untuk mencari arah kiblat karena pada bagian langit-langit kamar terdapat penunjuk arah kiblat.

Mini Living Room di kamar tipe THE CARA CARA

Amenities di kamar tipe THE CARA CARA

Kamar Mandi di kamar tipe THE CARA CARA

Amenities di kamar tipe THE CARA CARA

Kamar Mandi di kamar tipe THE CARA CARA
Keesokan paginya, kami melakukan breakfast sekitar pukul 9 pagi. Waktu breakfast yang diberikan oleh Cara Cara Inn adalah mulai dari pukul 6 pagi sampai dengan 9.30 pagi di Cara Cara Restaurant yang terletak di dekat front desk, di lobby. Dua Voucer breakfast yang kami dapat harus kami tukarkan dibagian front desk untuk bisa memilih menu breakfast pagi itu. Karena saya dan suami menginap di tipe kamar THE CARA CARA, kami mendapatkan tiga pilihan menu breakfast yaitu, Asian, International, dan Grab & Go. Waktu itu saya dan suami sama-sama memilih menu Internasional. Setelah memilih menu, voucer tersebut kami serahkan ke bagian Cara Cara Cafe. Sembari menunggu kami mencari tempat duduk dan mengambil minuman. Karena pagi itu ada banyak tamu yang breakfast juga, kami tidak kebagian tempat di bagian Cara Cara Cafe/Pantry/Lobby, akhirnya saya dan suami memilih tempat di Cara Cara Bar yang berada di lantai satu. Lokasi Cara Cara Bar ini ruang terbuka dan dari sini kita masih bisa melihat bagian Lobby dan Cara Cara Cafe. Berhadapan dengan tangga menuju Cara Cara Bar terdapat screen yang menampilkan nomor voucer yang kita gunakan untuk mengambil makanan di Cara Cara Cafe ketika breakfast kita sudah tersedia. Oh iya! Breakfast di Cara Cara Inn ini self-service, jadi setelah selesai makan, kita harus meletakkan kembali peralatan makanan kita di dekat Laundromat.

Breakfast
Pada saat menginap di Cara Cara Inn, banyak sudut dari setiap lantai mereka yang eyecatching dan menarik untuk diabadikan. Sayangnya saya dan suami belum sempat untuk memotret semua bagian sudut tersebut. Banyak tamu lain, baik lokal maupun asing, sendiri maupun rombongan yang menginap disana pada saat itu. Tentunya, mereka pun tidak melewatkan untuk mengabadikan momen mereka selama berada disana. Belum semua lantai disana dapat kami explore karena keterbatasan waktu menginap kami yang hanya satu malam. Next, saya dan suami berencana untuk kembali menginap lebih dari satu hari di Cara Cara Inn untuk bisa mengexplore dan menikmati waktu santai kami disana.

Cara Cara Bar
Itulah sedikit pengalaman saya dan suami selama menginap di Cara Cara Inn. Sedikit review tambahan mengenai kamar THE CARA CARA yang kami pilih waktu itu, overall kamar tersebut bersih, cukup luas dan nyaman, ada nilai plus buat orang seperti saya yang suka sesuatu yang eyecatching untuk dinikmati dan dipotret karena konsep ruangannya menarik, fasilitas dalam kamar cukup lengkap. Namun pada waktu kami menginap, malam sewaktu kami tidur ternyata hujan deras dan ketika subuh kami bangun, dilantai terdapat genangan air didepan tempat tidur dan searah dengan pintu kaca geser menuju balkon, kami menduga genangan air tersebut berasal dari rembesan air hujan melalui celah-celah pintu balkon tersebut. Selain itu untuk menu breakfast yang kami pilih waktu itu, menurut saya tampilannya menarik namun rasanyanya masih biasa saja, tidak mengecewakan tapi cukup enak saja. Overall dari 1-5, saya memberi nilai 4 untuk lokasi, service, fasilitas, dan breakfast di Cara Cara Inn. Bagi para traveller yang ingin merasakan sensasi menginap yang fun, harga terjangkau dengan fasilitas yang cukup baik di kawasan Kuta, maka saya merekomendasikan Cara Cara Inn!

Thursday, October 11, 2018

Kemudahan Menggunakan Fitur PayLater Traveloka

Kaum melek internet mana yang sekarang ini tidak tahu dengan Traveloka? Saya rasa banyak orang yang sudah mengetahui keberadaan perusahaan penyedia layanan untuk pemesanan tiket pesawat, hotel, kereta dan masih banyak lagi ini. Saya sendiri sangat terbantu dengan adanya Traveloka ketika ingin merencanakan sebuah perjalanan. Selain bisa diakses melalui web, Traveloka bisa diakses melalui gadget dengan cara mengunduh aplikasinya di Google Play Store/ App Store. Banyak fasilitas dan kemudahan yang bisa kita manfaatkan dengan menggunakan aplikasi Traveloka. Saya biasanya menggunakan aplikasi ini untuk memesan tiket pesawat dan hotel karena frekuensi saya untuk melakukan perjalanan bisa dibilang lumayan sering. Selain itu saya pun pernah memesan tiket atraksi dan hiburan menggunakan aplikasi ini. Kemudahan yang bisa kita dapatkan adalah proses pemesanan yang cepat, diskon yang diberikan, dan kemudahan dalam metode pembayaran. Traveloka menawarkan beberapa metode pembayaran, misalnya dengan transfer antar bank, menggunakan kartu kredit, pembayaran melalui indomart dan alfamart, dan yang paling terbaru saat ini Traveloka menawarkan metode PayLater.

Apa sih PayLatter Traveloka ini? Kalian bisa mendapatkan penjelasan mengenai PayLater ini dengan mengunjungi laman Traveloka melalui web atau melalui aplikasinya. Singkatnya, dengan menggunakan fitur ini, kita bisa melakukan pembelian tiket pesawat dan lain-lain tanpa harus langsung melakukan pembayaran. Berhutang dong? Jawabannya, iya. Jadi kita bisa melakukan pembayaran 30 hari setelah melakukan pemesanan atau kita bisa melakukan pembayaran dengan cicilan 2-12 bulan. Fitur ini tentu sangat membantu bagi kita yang sedang kepepet, misalnya mendadak harus bepergian tapi anggaran untuk pergi tidak cukup bulan itu, dan lain-lain.

Nah! Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya mencoba fitur PayLater Traveloka ini. Semula saya enggan untuk mencoba karena masih ragu tentang keamanan dan kerahasiaan data yang harus diberikan ketika melakukan pendaftaran agar bisa menggunakan fitur ini. Namun setelah  memperoleh informasi mengenai skema Paylater lebih lanjut dari simulasikredit.com saya merasa lebih percaya dan berani untuk melakukan pendaftaran. Mengutip penjelasan dari mereka :
"PayLater adalah merupakan hasil kerja sama Traveloka dengan strartup P2P lending Danamas yang merupakan mitra dari penyalur pinjaman dana."
Selain itu Danamas juga merupakan salah satu penyalur pinjaman yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Proses pendaftaran tergolong mudah dan cepat. Yang pertama kita harus login pada aplikasi Traveloka kemudian masuk ke menu PayLater. Kemudian kita diminta untuk mengisi data seperti data pribadi, keluarga, dan pekerjaan. Kemudian mengunggah dokumen pendukung seperti misalnya foto diri, softcopy KTP, Passpor, NPWP, Kartu BPJS, atau SIM. Setelah semua dokumen pendukung kita unggah, maka kita hanya perlu menunggu verifikasi dari pihak Traveloka. Beberapa saat kemudian kita akan menerima email dari pihak Traveloka dan jika lancar, proses persetujuan tidak akan memakan waktu lama, saya sendiri kurang dari 1 jam pendaftaran langsung menerima email konfirmasi dan persetujuan dari Traveloka dengan limit sekian juta. Setelah disetujui kita bisa mengaktifkan fitur ini langsung dan mulai menggunakan fitur PayLater. Namun yang perlu diingat, kita tidak bisa melakukan transaksi menggunakan PayLater melebihi limit yang disetujui untuk kita.

Pengalaman pertama saya menggunakan fitur ini adalah untuk pemesanan tiket pesawat, proses pemesanan dilakukan seperti biasa sampai ke tahap pembayaran, setelah itu kita bisa memilih metode PayLater dan pada aplikasi akan muncul tenor yang kita inginkan, mulai dari 1-12 bulan, serta rincian biaya cicilannya, jika ingin menyicil lebih dari 1 bulan. Setelah kita memilih jangka waktu pembayaran, pemesanan tiket diproses seperti biasa dan setelah berhasil tiket akan dikirimkan via email. Selain tiket, kita akan menerima email yang menyatakan transaksi kita telah berhasil dan semacam perjanjian kredit, namanya PayLater Loan Agreement sebagai bukti transaksi yang telah kita lakukan.

Sekian pengalaman saya mencoba fitur PayLater Traveloka ini. Ya... mudah bukan? Fitur ini bisa menjadi solusi bagi kita yang ingin melakukan perjalanan namun memiliki uang yang terbatas pada saat itu. Tapi sekali lagi saya ingatkan bahwa kemudahan ini harus dimanfaatkan dengan bijak, karena bagaimanapun juga ini namanya hutang. Jangan sampai kemudahan berhutang untuk bepergian yang kita dapatkan melalui fitur ini menjadi pemicu kita untuk terus berhutang atau bayar nanti-nanti. Intinya, lakukanlah transaksi keuanganmu dengan sebijak mungkin :)

Thursday, September 20, 2018

Wedding Preparation

Mempersiapkan pernikahan memang suatu hal yang menyenangkan, terutama mungkin bagi kebanyakan calon mempelai wanita. Namun gak sedikit juga calon mempelai pria yang sama excitednya dengan calon mempelai wanita. Beruntung gue mendapatkan calon yang sama excitednya dengan gue dalam mempersiapkan pernikahan kami. 

Persiapan pernikahan tentunya diawali dengan proses pencarian beberapa vendor yang kami perlukan dalam penyempurna acara pernikahan kami. Pencarian itu kami lakukan dengan meminta informasi dari keluarga, teman, hingga browsing melalui sosial media dan internet. Dari pencarian tersebut muncullah beberapa pilihan vendor sesuai dengan kriteria yang kami inginkan. Harapannya tentu yang sesuai antara budget dengan kualitas hasil dari jasa yang vendor tersebut berikan. 

Karena acara pernikahan ini kami adakan di Banjarmasin, tentu kebanyakan vendor yang kami cari berasal dari Banjarmasin. Buat para calon pengantin di luar sana, saran dari gue sih memang lebih enak jika menggunakan vendor yang berada satu wilayah dengan tempat acara kita dilaksanakan karena dapat mengehemat biaya yang harus kita keluarkan, misalnya saja biaya transportasi dan akomodasi jika kita harus mendatangkan vendor dari luar wilayah. Tapi It’s ok kalau memang kalian memiliki budget lebih untuk mendatangkan vendor dari luar wilayah, karena semua pilihan itu kembali lagi ke selera dan keinginan kedua calon pengantin dan keluarga. Pencarian vendor di Banjarmasin pada tahun 2018 ini sudah tidak begitu sulit karena semakin hari semakin banyak vendor-vendor baru dan berkualitas yang bermunculan. 

Hal pertama yang kami lakukan ketika tanggal pernikahan dan gedung telah ditentukan adalah mencari vendor untuk Makanan, Dekorasi, dan MUA. Untuk urusan makanan, sebenarnya gue sudah memiliki beberapa list catering yang gue dapat dari media sosial, tapi akhirnya gue memilih catering dari kenalan keluarga yang memang sudah pernah menangani catering pernikahan sepupu sebelumnya dan sesuai dengan budget, yait Catering Fananda. Untuk pilihan menu catering, gue hanya memilih catering dengan menu joglo karena sesuai kesepakatan kedua keluarga bahwa menu prasmanan akan dipersiapkan oleh pihak calon mempelai pria. Tantangannya disini adalah menyatukan dua vendor catering karena gue dan calon suami memilih vendor catering yang berbeda dengan pertimbangan masing-masing. Saran dari gue buat para calon pengantin di luar sana, pilih vendor catering yang kalian dan keluarga kalian cocok dengan rasa dan budget, kalau bisa sih satu vendor saja biar koordinasinya lebih mudah. 

Next untuk MUA dan dekorasi, sebenarnya di Banjarmasin ada beberapa vendor yang menurut gue dekorasinya bagus banget tapi gue kurang cocok sama make-upnya, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk menghemat budget, menurut gue ada baiknya jika kita mengambil paket dekorasi dan make up pada satu vendor saja. Untuk yang punya budget lebih, sah-sah saja jika ingin memilih vendor yang tidak paketan. Akhirnya pilihan gue jatuh pada Glowing (Galery of Wedding) Banjarmasin. Menurut gue hasil make-up dari owner-nya Glowing ini merupakan salah satu yang terbaik dan cocok dengan selera gue, selain itu dekorasinya pun ok sesuai selera dan tentunya gue memilih paket yang sesuai dengan budget. Intinya, lagi-lagi semua keinginan kita harus disesuaikan dengan budget, kalau memang kalian para calon pengantin tidak keberatan untuk mengeluarkan uang sekian rupiah untuk hasil sesuai keinginan, sok atuh jalan terus aja. Karena pernikahan merupakan sesuatu yang sekali seumur hidup, pasti setiap calon pengantin menginginkan yang terbaik. Tapi ingat, kalau bisa jangan over budget

Setelah pencarian 3 (tiga) vendor yang paling utama tadi, selanjutnya barulah memilih vendor untuk dokumentasi. Di Banjarmasin pilihan gue jatuh kepada 2 (dua) vendor yang karakteristik hasil foto dan videonya sesuai dengan selera gue. Untuk urusan dokumentasi, calon suami menyerahkan sepenuhnya kepada gue. Namun pemilihan vendor ini tetap kami lakukan dengan berdiskusi berdua. Untuk foto, kami mempercayakannya kepada Delution Photography sedangkan untuk video kami mempercayakannya kepada Dedet Pictures. Kedua vendor ini menurut gue portfolionya bagus dan paket yang ditawarkan beragam dengan harga yang lumayan bersaing. Karena penasaran dengan kedua vendor ini, makanya gue akhirnya bersikeras menggunakan 2 (dua) vendor dalam dokumentasi gue. Karena menurut gue, pernikahan itu momen yang harus diabadikan sebaik mungkin. Salah satu cara mengabadikan momen tersebut ya dengan memilih vendor dokumentasi terbaik juga. 

Selanjutnya bagian yang tidak kalah penting adalah bagian mempersiapkan undangan dan souvenir pernikahan. Untuk vendor undangan gue menjatuhkan pilihan pada Omah Undangan yang berlokasi di Yogyakarta. Di Banjarmasin mungkin ada banyak vendor atau jasa percetakan yang melayani untuk desain dan pembuatan undangan, tapi sejauh ini gue belum menemukan vendor yang gue sreg antara desain dan harga. Begitu juga di Jakarta, gue belum sempat survei langsung ke Pasar Tebet, padahal disana terdapat banyak toko yang melayani jasa desain dan pembuatan undangan. Kebanyakan dari teman-teman gue pun sebenarnya membuat undangan di Pasar Tebet, tapi dengan memperhitungkan harga, ongkos kirim undangan dan waktu untuk survei langsung, akhirnya gue memilih Omah Undangan yang bisa dipesan melalui online. Selain itu ongkos kirimnya pun gak terlalu berbeda antara Jakarta dan Yogyakarta. Di Omah Undangan, kami juga sekalian memesan buku tamu, biar matching dengan undangan. 

Setelah menentukan vendor undangan dan buku tamu, tentu selanjutnya menentukan vendor untuk souvenir. Sebelum menentukan vendor mana yang akan gue pilih, gue sempat kebingungan karena ada berbagai macam souvenir yang menarik untuk dijadikan souvenir pernikahan misalnya pouch, madu, teh, mug, sendok dan garpu, frame, dan masih banyak lagi. Dalam memilih souvenir, gue dan calon suami mempertimbangkan aspek kegunaan souvenir oleh para tamu dan harga dari souvenir tersebut. Sempat berdikusi panjang dengan calon suami dan akhirnya pilihan kami (dibaca: pilihan gue yang disetujui oleh calon suami wkkwkk) jatuh pada mug. Setelah searching lewat fitur tag-nya instagram dan googling untuk kesekian kalinya, akhirnya gue menemukan 1 (satu) website pabrik souvenir mug yang waktu itu gue peroleh ketika browsing di kantor. Dari website mug tersebut, banyak info yang bisa gue dapat dan semakin meyakinkan gue. Sambil diskusi dengan calon suami, akhirnya gue putuskan untuk menghubungi kontaknya via whatsapp dan langsung dibalas pada waktu itu oleh adminnya. Gue mulai minta pricelist dan minta diskon (padahal waktu itu niatnya masih nanya harga aja, belum pasti pesan disana karena belum dapat kesepakatan dengan calon suami). Setelah dapat pricelist dan penawaran dari vendor ini, kemudian gue komunikasikan dengan calon suami, tektok-tektok, akhirnya kami sepakat untuk jadi memesan souvenir mug pada vendor ini, yaitu Mug_app. Lokasi pabriknya sendiri berada di Bogor (dekatlah dengan Jakarta) dan kami juga mendapat diskon karena jumlah pemesanan kami yang lumayan banyak. 

Vendor makanan, dekorasi, MUA, foto, video, undangan, dan souvenir sudah kami pilih. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah memilih hiburan dan MC. Untuk urusan ini, gue serahkan sepenuhnya kepada calon suami. Karena dia punya banyak teman dan beberapa temannya itu punya kenalan dengan anak band, dia kemudian minta kontak band tersebut dan minta pricelist. Band yang kami hubungi berdasarkan rekomendasi dari teman tersebut adalah Bigbossband Official. Karena kami langsung cocok dengan harga, kami langsung booking band sekaligus minta carikan MC dari bandnya dan alhamdulillah untuk jumlah yang kami bayar sudah termasuk dengan biaya MC. 

Itulah sebagian cerita dari persiapan pernikahan gue dan calon suami pada waktu itu. Proses persiapan belum selesai sampai disitu saja. Setelah itu, masih banyak hal-hal yang harus didiskusikan berdua dan keluarga. Sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan dan lucu jika diingat-ingat karena semua diskusi yang kami lakukan tidak melulu sependapat dan ada juga perbedaan pendapat. Semua itu wajar karena dalam acara pernikahan, semua pihak baik dari kami berdua hingga keluarga sangat excited dan tentu menginginkan yang terbaik untuk acara pernikahan kami. 

Sekian.


Tuesday, September 18, 2018

Hari Pernikahan 18-08-18

Alhamdulillah pada tanggal 18 Agustus 2018 gue dan calon suami telah melangsungkan acara pernikahan di kediaman orang tua gue di Banjarmasin. Acara akad nikah kami mulai pada pukul 8 pagi waktu setempat. Tamu undangan yang hadir pada saat itu merupakan keluarga besar dan sahabat dekat serta kerabat kami saja.

***

Hari itu gue bangun sekitar pukul 4 pagi untuk melakukan persiapan make-up oleh tim make-up. Sebelum dimake-up gue melakukan sholat subuh terlebih dulu. Proses make-up berlangsung lumayan lama sekitar 2 jam lebih. Make-up yang gue request pada hari itu adalah make-up yang natural. Gaun yang gue kenakan untuk acara akad nikah adalah dress panjang berwarna broken white dengan padanan hijab syar’i ala pengantin melayu, matching dengan pakaian yang akan dikenakan oleh calon suami.

Kurang dari pukul 8 pagi, para undangan sudah mulai berdatangan, begitu setidaknya yang gue tahu pada saat itu, karena gue berada di dalam kamar sedang melakukan makeup persiapan. Tidak lama setelah itu, bapak Penghulu yang akan menikahkan gue datang dan gue diminta keluar dari kamar untuk melakukan proses yang disebut “bewali”. Bewali adalah proses meminta maaf, meminta izin dan doa restu kepada ayah untuk dinikahkan dengan calon suami gue. Setelah selesai bewali, gue kembali masuk kamar untuk menyelesaikan make-up.

Tidak berapa lama setelah proses bewali, calon suami gue dan rombongan keluarganya datang dengan membawa seserahan. Mereka disambut oleh pihak keluarga gue untuk memasuki rumah dan berjalan menuju tempat akad. Calon suami kemudian meminta maaf, meminta izin dan doa restu kepada kedua orangtuanya untuk melaksanakan akad nikah pada hari itu. Sementara gue hanya bisa mendengarkan sayup-sayup dari dalam kamar ditemani oleh sahabat gue dan tim make-up.

Beberapa saat setelah itu, terdengar suara lantunan ayat Al Quran yang dibacakan oleh seorang Qori. Kemudian sepatah dua patah kata dari bapak Penghulu untuk memulai proses akad nikah. Setelah itu terdengar sebuah kalimat panjang yang menjadi penentu sekaligus titik awal fase kehidupan baru itu dimulai. “Saya terima nikah dan kawinnya Dina Herliana binti H. *********** dengan maharnya........”. Kalimat akad nikah yang diucapkan oleh seseorang yang kini dengan bangga dan bahagia gue sebut sebagai suami. “SAH!” terdengar suara dari beberapa orang dan alhamdulillah mulai detik itu kami sudah sah sebagai seorang suami dan seorang istri. Rasa senang, haru, dan lega bercampur pada saat itu. Semua rasa tegang dan cemas sebelum hari akad nikah terasa hilang berganti dengan senyum bahagia pada saat itu. Alhamdulillah.

Kemudian setelah proses akad nikah selesai diiringi dengan pembacaan doa. Gue dipanggil untuk keluar dari kamar, disandingkan dengan suami di tempat akad. Kami duduk berdua di depan bapak Penghulu dan selanjutnya suami gue meletakkan tanganya di ubun-ubun gue seraya membacakan doa. Setelah proses itu, selanjutnya dilakukan pembacaan sighat ta’lik yang berisi hak dan kewajiban suami dan istri dalam pernikahan. Setelah selesai pembacaan sighat ta’lik, dilajutkan dengan penyerahan mahar secara simbolis dari suami kepada gue. Kemudian setelah itu kami berdua menandatangani berkas-berkas pernikahan, namun sayang sekali karena persediaan buku nikah saat itu sedang tidak ada, maka buku nikah kami harus di ambil ke KUA pada awal September mendatang. Setelah selesai proses penandatangan berkas-berkas itu kami berdua melakukan prosesi sungkem dengan nenek dan kakek serta kedua orang tua kami dan foto bersama.

Acara selanjutnya adalah baantar jujuran. Tradisi baantar jujuran ini sering ditemui dalam rangkaian pernikahan orang-orang Banjar. Baantar jujuran adalah sebuah acara penyerahan seserahan dari pihak mempelai pria kepada mempelai wanita. Seserahan tersebut biasanya berisi perlengkapan yang akan dipergunakan oleh mempelai wanita dari ujung kepala hingga ujung kaki, perlengkapan rumah tangga sampai perlengkapan dapur.

Dalam rangkaian pernikahan gue, prosesi baantar jujuran sendiri dilakukan setelah semua rangkaian acara akad nikah selesai. Diawali dengan penyerahan seserahan yang telah dibawa suami dan keluarganya kemudian dibuka oleh seorang pembawa acara. Pembawa acara kemudian mempersilakan perwakilan dari pihak mempelai pria untuk menyampaikan sambutan dan biasanya menggunakan pantun dalam bahasa Banjar. Setelah itu, perwakilan dari mempelai wanita juga akan menyampaikan kalimat penerimaan atas seserahan yang diberikan dan diiringi dengan pantun berbahasa Banjar. Kemudian dalam acara ini juga kedua mempelai melakukan prosesi penukaran cincin. Setelah prosesi penukaran cincin, ada juga prosesi penyerahan uang jujuran yang secara simbolis diserahkan dari mempelai pria kepada mempelai wanita, kemudian diletakkan kedalam sebuah tempat yang sudah dihias sebelumnya dan diisi dengan bunga rampai. Uang tersebut kemudian diaduk di dalam tempat yang sudah tersedia bersama dengan bunga rampai, lalu dikeluarkan kembali untuk disimpan oleh pihak mempelai wanita. Bunga rampai yang tersisa dan telah diaduk tadi kemudian dicampur kembali dengan bungkusan gula merah, kelapa potong, bungkusan uang kecil-kecil, permen dan sejenisnya yang semuanya telah dihias. Setelah semuanya diaduk, gue dan suami berserta kedua ibu kami kemudian melemparkan bunga rampai, gula merah dan sejenisnya tadi kepada para tamu wanita yang hadir mengikuti acara tersebut. Para tamu antusias berebut untuk mendapatkan gula merah dan sejenisnya tersebut. Setelah prosesi tersebut selesai, pembawa acara menutup acara dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh pembaca doa. Setelah semua acara selesai, para tamu dapat menyantap makanan dan pulang.

Acara kami pada hari itu selesai sekitar pukul 2 siang, karena setelah acara baantar jujuran selesai ternyata masih ada beberapa teman yang baru bisa datang pada siang harinya. Setelah semua tamu dan keluarga lain pulang, barulah kami berdua bisa makan dan beristirahat. Alhamdulillah acara kami pada hari itu berjalan dengan lancar, meskipun ada beberapa kekurangan atau beberapa acara yang belum sesuai dengan rencana, masih dapat kami maklumi dan syukuri.

Berakhirnya acara akad nikah dan baantaran jujuran pada hari itu menandai awal mula perjalanan gue dan suami sebagai seorang suami dan istri. Mengantarkan gue dan suami memasuki fase kehidupan yang baru dengan penuh rasa bahagia, diiringi doa dan harapan akan berakhir bahagia pula nanti pada saatnya maut memisahkan. Begitulah kiranya doa dan harapan kami, dan gue yakin merupakan doa dan harapan semua pasangan dan keluarga lain juga.

***

Pernikahan merupakan suatu proses yang ada dalam kehidupan dimana dalam setiap kehidupan tidak akan selalu statis dan lurus seperti apa yang selalu kita inginkan. Tentu di dalamnya terdapat dinamika yang akan memberikan dan mengajarkan kita banyak hal untuk selalu bersabar dan selalu bersyukur, menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Bagi gue, pernikahan merupakan suatu langkah awal yang dimulai dengan niat baik dan mulia untuk mencapai tujuan akhir yang baik dan mulia juga bersama pasangan hidup gue. Semoga gue dan suami bisa menghadapi segala tantangan yang mungkin akan menghampiri kami dalam perjalanan panjang ini bersama. Semoga kami bisa selalu menjaga komitmen untuk saling melengkapi, menerima kekurangan masing-masing dan saling memperbaiki diri, belajar bersama membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Aamiin.

Monday, September 17, 2018

Tulisan Menjelang Hari Pernikahan

Beberapa waktu sebelum hari pernikahan, gue pernah menyempatkan diri untuk menuliskan beberapa hal dalam sebuah catatan ketika kerjaan gue lagi sedikit selama di kantor. Tujuannya untuk mengingatkan gue kembali pada perasaaan-perasaan di masa itu, karena gue itu orangnya pelupa, barangkali tulisan ini bisa membantu gue untuk mengenang masa-masa tersebut. Awalnya pengen langsung ditulis di blog setiap hari, tapi gue memutuskan untuk dikumpulkan hingga nanti bisa gue posting dalam satu postingan saja.

Niat awalnya pengen membuat diary menjelang pernikahan, yang isinya menceritakan segala hal tentang hari-hari gue sebelum hari pernikahan, tapi pada kenyataannya, niat tersebut rupanya belum terlaksana sepenuhnya, gue hanya sempat menuliskan 4 hari yang telah gue lalui dari 100 target hari yang ingin gue tulis.

H-98 Hari Pernikahan
Hari ini adalah H-98 hari pernikahan gue dan calon suami, yaitu tanggal 11 Mei 2018. Kalau mau dibilang masih lama, memang masih lama, tapi kenyataannya hari bahagia itu semakin dekat. Ada sedikit rasa cemas dalam pikiran gue. Kembali mengingat dan bertanya apakah gue sudah mantap dan siap dalam menjalani kehidupan baru menjadi seorang istri? Apakah gue sudah cukup dewasa dalam mengambil setiap keputusan? Apakah gue bisa menjadi istri terbaik bagi suami gue kelak? Apakah semuanya akan baik-baik saja? Atau bahkan semakin membaik? Semua pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan gue hanya bisa menebak-nebak jawabannya sembari berdoa untuk semua kebaikan yang mungkin akan terjadi di masa depan.

H-95 Hari Pernikahan
Hari ini adalah H-95 hari pernikahan gue dan calon suami, yaitu tanggal 14 Mei 2018. Kalau dihitung kayak gini kadang jadi berasa kayak lama banget. Kegiatan menulis kayak gini mulai gue lakukan ketika ada waktu senggang selama berada di kantor. Kebetulan memang jobdesc gue saat ini gak sebanyak yang lalu. Karena segala macam sudah gue lakukan untuk menghilangkan jenuh, akhirnya gue pilih dengan menulis perasaan gue sebelum hari pernikahan. Sampai hari ini gue belum mengirimkan draft desain undangan kepada Omah Undangan untuk dicetak karena masih menunggu desain yang harus direvisi oleh desainernya. Gue juga belum mengirimkan desain untuk souvenir.

H-58 hari Pernikahan
Hari ini adalah H-58 hari pernikahan gue dan calon suami, yaitu tanggal 20 Juni 2018. Hari ini gue melakukan vaksin TT pertama didampingi oleh calon suami di Puskesmas dekat rumah di Banjarmasin. Selain gue yang melakukan vaksin, calon suami juga mengurus surat keterangan sehat disini. Pelaksanaan vaksin TT bagi calon mempelai wanita dan surat keterangan sehat calon mempelai pria merupakan persyaratan yang diminta oleh KUA. Selain itu, hari ini kami juga melakukan fitting untuk baju akad di salon.

H-57 Hari Pernikahan
Hari ini adalah H-57 hari pernikahan gue dan calon suami, yaitu tanggal 21 Juni 2018. Gue dan calon suami sudah kembali ke perantauan masing-masing dari libur panjang setelah lebaran tahun 2018. Alhamdulillah beberapa urusan pernikahahan selama di Banjarmasin bisa kami selesaikan. Seperti surat pengantar nikah dan dokumen-dokumen lain untuk diserahkan kepada KUA (ini yang terpenting). Urusan souvenir sudah acc mengenai desain akhir dengan vendor, tinggal menunggu hasil produksi dan proses pengiriman yang kemungkinan akan selesai dan dikirim pada minggu ketiga bulan Juli 2018. Urusan undangan juga baru sampai proses revisi terakhir dari vendor, tinggal menunggu desain akhir untuk selanjutnya dilakukan pencetakan. Sebenarnya agak sedikit worry juga untuk urusan souvenir dan undangan karena waktu selesainya kemungkinan di minggu ketiga bulan Juli 2018. Beberapa vendor masih libur dan baru mulai beroperasi kembali pada tanggal 25 Juni 2018 setelah libur lebaran, tapi semoga semuanya bisa selesai tepat waktu. Aamiin. Fitting baju juga baru dilakukan untuk acara akad sementara untuk resepsi dan baju orangtua kami jadwalkan di bulan Juli 2018 (H-1 bulan). Masuk H-57 ini udah mulai mikirin tentang perawatan yang harus dilakukan sebelum hari H dan kayaknya udah mulai ngurangin jalan-jalan dulu sekalian untuk berhemat.

4 hari yang gue ceritakan diatas merupakan bagian dari 100 hari menjelang pernikahan gue yang sangat istimewa. 96 hari dari 100 hari menjelang pernikahan, tentu sama menariknya, namun sayang gue tidak sempat menuliskan semuanya karena kesibukan dan rutinitas gue pada waktu itu. Tapi alhamdulillah tulisan pada 4 hari tersebut tetap bisa mengingatkan gue kembali pada masa-masa itu, masa dimana gue mempersiapkan segala hal tentang hari bahagia gue.

Sekian.

Wednesday, July 18, 2018

Bicara Tentang Pernikahan

Beberapa tahun yang lalu, gue pernah membuat sebuah postingan mengenai pemikiran gue tentang pernikahan (bisa baca disini). Semua pemikiran yang mengawang-awang waktu itu gue tuliskan begitu saja dan hari ini gue kembali ingin bicara tentang pernikahan, menurut pemikiran gue versi sekarang. Ok mari kita mulai!

Satu per satu fase kehidupan telah gue jalani selama seperempat abad ini. Orang datang dan pergi silih berganti. Ada orang baru dan orang lama. Mereka semua adalah bagian dalam kehidupan sederhana gue ini. Semakin hari, semakin bertambah usia. Namun bukan berarti semakin bertambah usia, kita menjadi semakin dewasa. Semua itu pilihan dari kita masing-masing. Dan gue berharap semoga gue sudah semakin dewasa. Aamiin.

Dulu, satu per satu teman sudah mulai siap dan berani melangkah dalam sebuah bahtera rumah tangga alias sebuah pernikahan. Sekarang? Banyak teman gue sudah memasuki fase tersebut. Setiap minggu, di bulan-bulan tertentu, akan ada undangan untuk menghadiri acara pernikahan mereka dan gue sampai saat ini masih sama dengan gue yang menuliskan postingan itu 3 (tiga) tahun yang lalu, masih belum menikah (dibaca: akan menikah). Nyahaha.

Friday, June 1, 2018

25 tahun

Alhamdulillahirrabbilalamin.
Terima kasih ku ucapkan kepada seorang wanita, ibu yang telah melahirkanku ke dunia tepat 25 tahun yang lalu. Terima kasih atas perjuangannya mengandungku selama 9 bulan, menjaga dan membesarkanku, hingga aku sampai seperti sekarang. Terima kasih atas perjuanganya yang terus menerus untukku. Hingga sekarang, setiap hari selalu menungguku pulang dari perantauanku sejak usiaku 18 tahun.