Showing posts with label Travelling Story. Show all posts
Showing posts with label Travelling Story. Show all posts

Sunday, August 6, 2017

Backpacking ke Singapura : Hari Kedua - Universal Studio Singapore dan National Gallery Singapore

Jumat, 14 Juli 2017, gue dan Oknum C memulai perjalanan pertama kami mengexplore negri Singapura. Destinasi yang kami pilih adalah Universal Studio. Sebelumnya gue dan C telah membeli e-ticket Universal Studio Singapore (USS) ini melalui traveloka. Semula rencana kami di hari pertama ini adalah sarapan dan berfoto disepanjang jalan yang akan kami lewati lalu kemudian mulai berangkat ke Universal Studio pada jam 9 pagi, tapi ternyata pagi itu turun hujan. Gue dan C memutuskan untuk menunggu hujan reda dan sarapan di hostel saja. Pada jam 10 kami baru bisa pergi meninggalkan hostel dan berjalan menuju stasiun MRT Lavender. Sebelum masuk, kami memutuskan untuk melakukan top-up EZ-link card kami dengan harapan sakali top-up itu dapat kami manfaatkan selama berjalan-jalan di Singapura (gak perlu top-up lagi, biar sekalian diisi saldonya yang banyak). Minimum top-up EZ-link card  ini adalah 10 SGD. Kemudian kami menaiki MRT (line hijau) dan turun  untuk transit di stasiun MRT Outram Park, dari stasiun Outram Park kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Harbourfrount (line ungu). Sampai di stasiun MRT Harbourfrount, kami berjalan menuju Vivoo City Mall dan menaiki eskalator ke lantai 3. Dari lantai 3 ini, kami langsung menaiki Sentosa Express di Sentosa Station yang akan mengantarkan kami ke Universal Studio Singapore. Bagi kalian yang memilik EZ-link card, bisa langsung menge-tap kartu ini tanpa harus membeli tiket khusus lagi untuk menaiki Sentosa Express. Bagi kalian yang tidak memiliki EZ-link card, misalnya kalian yang menggunakan STP, maka kalian harus membeli tiket Sentosa Express ini seharga 4 SGD di mesin yang tersedia. Rute Sentosa Express dari Vivoo City adalah Waterfrount Station-Imbiah Station-Beach Station dan kembali lagi.

Karena gue dan C ingin ke Universal Studio, maka kami harus turun di Waterfrount Station. Sesampainya disana, kami langsung turun menggunakan eskalator dan berjalan menuju arah masuk Universal Studio. Kami tidak harus mengantri panjang untuk membeli tiket masuk lagi karena sudah mempunyai e-ticket. Cukup menujukan e-ticket yang ada di smartphone kami, scan barcode, dan voila! Welcome to Universal Studio Singapore!

Saat pertama memasuki kawasan Universal Studio, terlihat icon khas Universal Studio, yaitu bola dunia yang berputar bertuliskan Universal Studio yang ramai dijadikan tempat untuk berofto bagi para pengunjung. Universal Studio ini sama seperti Dufan di Indonesia, intinya sih tempat bermain dan bersenang-senang, hanya saja disini lebih banyak dan lebih seru permainannya. Universal Studio ini terbagi menjadi beberapa zona, yaitu Hollywood, New York, Sci-Fi City, Ancient Egypt, Lost World, Far Far Away, dan Madagaskar. Tujuan utama gue kesini sih sebenarnya karena ingin berfoto dengan Minion, jadilah gue dan C langsung melangkah ke zona Hollywood. Ketemu patung minion, gue dan C langsung foto-foto. Setelah foto-foto, gue dan C masuk ke area Sesame Street, awalnya kami mau nonton pertunjukannya, tapi karena antrinya panjang dan lama (dalam bayangan kami sih kayak nonton rumah boneka) jadilah pas setengah antrian kami memutuskan untuk keluar. Di area Sesame Street ini kami pun berfoto dan difoto oleh jasa foto yang ada di USS. Namanya juga lagi kegirangan yah, kami berdua mau aja difoto, terus ternyata setelah difoto kami diminta untuk membeli hasil foto yang akan dicetak (kalo kami mau beli). Satu foto yang dicetak itu harganya 25 SGD. Gue dan C memutuskan untuk tidak membelinya pagi itu, masa iya pagi-pagi baru sampai udah kecolongan 25 SGD, secara kita backpacker hemat, ingat uang segitu bisa untuk membeli makan siang kami atau untuk membeli tempat popcorn Minion keinginan gue yang seharga 35 SGD.

Next, gue dan C melanjutkan perjalan kami zona Sci-Fi City, sebelum masuk wahana permainan, kami masuk ke toko souvenir yang bertemakan Tranformer, disana banyak banget barang-barang lucu yang semuanya Transformer. Gue dan C sih sebenarnya suka dan pengen beli, tapi mengingat kami backpacker hemat, kami kembali mengurungkan niat untuk membelinya wkkwkk. Di zona ini sebenarnya banyak banget wahana menarik, rollercoaster, dan lain-lain. Gue sebenarnya sangat ingin menaikin rollercoaster tersebut, hanya saja kalau cuman sendiri gue juga takut, kalo berdua kan ada temannya wkkwkk. Tapi berhubung oknum C tidak berani wkkwkkk kami melanjutkan perjalanan ke zona Ancient Egypt. Disini seharusnya kami nonton pertunjukan Mummy, tapi entah kenapa kami melewatkannya. Kami terus berjalan tanpa memasuki wahana apapun. Selanjutnya kami memasuki zona Lost World yang akrab banget sama Jurassic Park, disinipun kami hanya bermain di air mancur. Lalu, once upon a time, kami memasuki zona Far Far Away. Nah, disini baru oknum C semangat buat masuk ke wahananya. Gue dan C ikut antri dan berpikir bahwa kami akan menonton pertunjukan tentang God Fairy Mother. Ternyata kami memasuki pertunjukan 3D sambil menonton film Shark sekitar 15-20 menit. Setelah pertunjukan 3D tersebut selesai kami keluar dan menuju tempat souvenir bertemakan Fairy.

Beberapa saat berkeliling di toko souvenir tersebut, sekitar jam 12 siang ketika gue dan C mau keluar ternyata turun hujan yang sangat deras, gue dan C memutukan untuk berteduh di dalam saja. Saat itu, banyak pengunjung yang tetap melanjutkan permainan dan membeli jas hujan. Semula gue dan C bermaksud untuk membeli jas hujan tersebut, tapi setelah bertanya berapa harganya, lagi-lagi gue dan C mengurungkan niat untuk membeli jas hujan tipis transparan bertuiskan USS seharga 5 SGD yang kami anggap lumayan seharga paket Burger King (ingat poster iklan Burger King di stasiun). Sewaktu berteduh, lapar dan haus mulai muncul karena waktu memang sudah cukup siang, tapi hujan belum juga reda. Akhirnya dengan berat kami memutuskan untuk membeli jas hujan seharga Burger King yang bisa mengisi perut kami ketika makan siang (maksudnya sih pengen dipakai buat makan uangnya). Daripada kami hanya diam disatu tempat, sayang waktu yang sudah terbuang. Kami memakai jas hujan tersebut dan berjalan disekitaran zona Madagaskar. Disana kami hanya berfoto menggunakan jas hujan kemudian menaiki komedi putar.

Lalu hujan mulai reda, kami berjalan menuju zona New York. Kemudian kami melihat Marylyn’s, booth yang menjual paha ayam turki yang ukurannya terkenal besar. Semula kami ingin patungan membelinya, tapi gak jadi lagi karena setelah kami lihat ukurannya tidak terlalu besar (untuk dua orang mungkin ukurannya jadi terasa kecil) wkkwkk. Sekitar jam 13.30 kami memasuki satu persatu toko souvenir, mulai dari toko souvenir Minion, lalu Sesame Street, disini gue membeli satu souvenir sebagai kenang-kenangan. Next time gue mau beli lagi yang lain kalo jalan ke USS. Lalu gue dan C kembali memutuskan untuk berfoto didepan toko Sesame Street. Saat berfoto disini tiba-tiba kami kembali difoto oleh petugas jasa foto yang jaga. Padahal maksud kami awalnya cuman minta tolong untuk difotoin aja. Waktu difotoin mah dia oke-oke aja, bilang foto kami bagus dan pujian-pujian lain, terus penjaga lain yang bertugas mencetak foto, tiba-tiba sudah menyodorkan hasil foto yang telah dicetak sebanyak satu lembar. Shock menyadari hal itu, gue dan C bingung itu foto mau dibeli apa enggak. Akhirnya dengan “ keledai”nya gue membeli foto tersebut dengan iming-iming gue dan C bakalan dapat softcopy dari semua foto-foto kami. Selembar foto seharga 25 SGD yang kalau gue tambah 10 SGD bisa dapat tempat popcorn Minion keinginan gue L nyuhuhu. Setelah membayar kami pikir kami benar-benar mendapatkan softcopy semua foto yang ada di komputer itu, tapi ternyata softcopy yang dimaksud adalah bukan data yang ada ditransfer ke gadget gue, melainkan gue harus foto ulang tuh foto dari layar komputer menggunakan smartphone atau kamera gue. Itu yang disebut softcopy oleh Mba-Mba penjaganya. What?

Oke setelah melakukan kekonyolan dengan membeli selembar foto di Sesame Street itu, gue dan C mencoba masuk wahana Transformer yang antriannya hampir sejam. Setelah antri hampir sejam akhirnya kami menaiki permainan 3D selama kurang lebih 20 menitan. Keluar dari wahan transformer itu, gue dan C bergegas untuk pulang mengingat jadwal kami selanjutnya adalah menuju pameran di National Gallery Singapore pada jam 5. Selama di USS lalu, kami baru bertemu orang-orangan yang pakai kostum Minion dan Sesame Street ketika sore. Alhasil kami tidak sempat berfoto dengan semua tokoh yang kami mau, kami hanya sempat mengantri berfoto dengan Minion. KeYag jadi pertanyaan gue dan C saat itu adalah kenapa mereka munculnya disaat sore ketika kami mau pulang sih? L Ya sudah, mungkin lain kali kalau kesini kami bisa menghabiskan waktu benar-benar lebih lama dan seharian di USS. Lalu, belum afdol kalo ke USS tapi belum foto di iconic bola dunianya, akhirnya kami memutuskan untk berfoto sebentar disana sebelum keluar dari USS.

Ke USS, banyak banget yang nawarin foto dan bilangnya free, dengan polosnya gue dan C mau aja tiap ada yang ngajakin kami berfoto. Sama halnya waktu keluar dari USS, gue dan C diajak foto lagi sama petugas yang jaga booth Sentosa Isand (kalau gak salah, yang letaknya ada ddepan toko-toko souvenir Sentosa). Pas mau difoto bilangnya free, pas udah dicetak eh ternyata harus bayar wkkwkk. Gak mau mengulang kejadian waktu di dalam USS, kami memutuskan untuk pergi dan tidak membli foto tersebut. Alhamdulillah, uang kami terselamatkan dari barang yang bukan prioritas kami wkkwkk.

Gue dan C lalu menaiki eskalator keatas menuju stasiun Sentota di Vivoo Cty Mall lagi. Sesampainya di Vivoo City Mall itu sudah sekitar jam 4.30, gue lalu bertanya ke oknum C, kita mau makan atau langsung ke National Gallery? Oknum C menjawab, “makan dulu aja, masih sempat kan? Dekat kan?”. Menyadari C santai-santai aja gue coba ikut-ikutan santai meskipun awalnya cemas, takut terlambat dan gak boleh masuk lagi kalau telat dari jam 5 ke National Gallery-nya. Kami lalu menuju MCD terdekat untuk membeli makan siang. Baru duduk dan ngobrol sebentar, C mulai bertanya, emang berapa menit lagi?” Gue jawab, 15 menit lagi C.” Sontak C langsung kaget dan melihat jam yang ada di smartphonenya. “Astaga, kenapa lo gak bilang daritadi?” ungkap C ke gue. Dengan perasaan kosong gue jawab, “Gue pikir lo udah tau daritadi, makanya gue tanya ini kita masih sempat gak? Karena lo santai-santai aja, jadinya gue ikutan santai nyehehe.” Gue langsung nyengir.

Ternyata sedari tadi itu oknum C salah lihat jam, yang dia lihat adalah jam tangannya yang notabene-nya satu jam lebih lambat dari waktu di Singapura. Tanpa pikir lama lagi, gue dan C lagsung bergegas meninggalkan MCD, berjalan cepat disepanjang jalan stasiun MRT sambil sesekali minum atau nyemilin makanan yang kami beli tadi.

Perjalanan menuju National Galery Singapore kami tempuh menggunakan MRT selama beberapa menit. Kami naik dari stasiun MRT Harbourfrount menuju stasiun MRT Outram Park untuk transit dan meneruskan perjalanan menaiki MRT dengan line hijau menuju stasiun MRT City Hall. Sampai di stasiun MRT City Hall, kami bergegas keluar stasiun menuju exit B dan mengambil jalan ke arah kiri, menelusuri jalan yang disebut Art Connector. Disepanjang Art Connector ini terpajang karya-karya seni dari beberapa seniman dan memandu kami kearah National Gallery Singapore. Letaknya ternyata tidak jauh dari stasiun MRT City Hall, hanya berjalan sekitar 5-7 menit kami sudah menjumpai bangunan kuno ini. Kami langsung masuk dan menuju lokasi pameran. Sebelumnya, gue dan C telah membeli tiket pameran di National Gallery Singapore ini secara online melalui website mereka di www.nationalgallery.sg. Dari website tersebut kita bisa memilih untuk membeli tiket apa yang inginkan. Waktu itu gue dan C membeli tiket untuk tipe All Access Pass seharga 30 SGD untuk non Singaporeans. All Access Pass ini merupakan tiket yang bisa digunakan untuk semua pameran, saat itu ada pameran umum dan pameran spesial dari seniman Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow.
Special Exibition by Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow
Tiket all exibition National Gallery Singapore.
Langit-langit di Gallery National Singapore. Dots by Yayoi Kusama.
Setelah mengantri beberapa menit di bagian tiket, alhamdulillah gue dan C masih bisa masuk, meskipun waktu sudah lewat dari jam 5 sore. Kamipun langsung memasuki pameran spesial dari Yayoi Kusama. Saat ini pameran spesial ini merupakan pameran yang ramai dikunjungi karena karya-karya seni Yayoi Kusama yang menarik dan sangat instagramable. Banyak banget pengguna instagram yang memposting foto-foto mereka ketika berkunjung ke pameran ini. Bagi kalian yang belum tahu siapa itu Yayoi Kusama mungkin bisa googling sendiri tentang profilnya melalui internet. Pameran spesial ini berlangsung selama tanggal 9 Juni 2017 – 3 September 2017 di National Gallery Singapore. Selain ke pameran spesial, gue dan C juga menyempatkan waktu kami untuk melihat pameran umum Innaugural Children’s Biennale.
Salah satu karya seniman Yayoi Kusama dengan tema "The Spirits Of The Pumpkins Descended Into The Heavens".
Pumpkins by Yayoi Kusama.
Mirrors and Infinity by Yayoi Kusama.
I Want To Love On The Festival Night by Yayoi Kusama.
Love Forever by Yayoi Kusama.
With All My Love for the Tulips, I Pray Forever by Yayoi Kusama.
The Sun Wants to Go on a Journey by Yayoi Kusama.
Homogenizing and Transforming World di Gallery Children's Biennale.
Di Singapura hari itu, rasanya waktu terasa begitu cepat dan melelahkan. Tidak semua pameranpun bisa kami lihat di National Gallery ini. Kami mengistirahatkan kaki sebentar sebelum meneruskan perjalanan untuk makan malam. Ribuan langkah telah kami jejakkan disana dengan berjalan kaki. Dari National Gallery Singapore, kami memutuskan untuk berjalanan kaki lagi menuju Jalan Sutra untuk makan malam. Pemandangan kota Singapura dimalam hari terlihat sangat keren dengan lampu-lampu dan bangunan-bangunan tinggi menjulang, dikawasan Marina Bay. Jalan Sutra atau Makan Sutra ini sudah sangat terkenal bagi para traveller maupun backpacker yang bepergian ke Singapura. Disini terdapat berbagai macam makanan dengan berbagai porsi untuk kita nikmati. Sekitar jam 8 malam kami sampai disana, saya dan C memutuskan untuk makan nasi hainan paket lengkap seharga 8.5 SGD dengan porsi yang menurut gue cukup banyak dan mengenyangkan. Setelah menyantap makan malam dan menghabiskan waktu selama 1 jam disana, sekitar jam 9 kami memutuskan untuk pulang ke hostel. Sebelumnya kami bermaksud untuk ke Merlion Park, tapi berhubung waktu sudah malam dan ada barang yang kami cari di salah satu mall disana, kami mencoba untuk memasuki The Shoppes, tapi sayang toko-toko di mall itu sudah hampir tutup sekitar jam setengah 10. Dan kami pun pulang menggunakan bus yang kami tunggu didepan halte Explainade. Dari halte Explainade kami turun di halte City Hall dan melanjutkan perjalanan menggunakan MRT dari stasiun MRT City Hall ke arah stasiun MRT Lavender. Kami sampai di hostel sekitar jam 10 malam, kemudian mandi dan tidur.

Bersambung.

Universal Studio Singapore
Alamat : 
8 Sentosa Gateway, Singapura 098269
Jam Buka : Minggu - Sabtu 10 am - 8 pm

Telepon : +65 6577 8888

National Gallery Singapore
Alamat : Saint Andrew's Road, #01–01, Singapura 178957
Jam Buka : Senin - Kamis 10 am - 7 pm, Junat - Sabtu 10 am - 10 pm

Telepon : +65 6271 7000

Pictures snapshoted by Dina H.
Fujifilm X-A1

Fujifilm X-70

Saturday, August 5, 2017

Backpacking ke Singapura : Hari Pertama - Changi International Airport dan Meadows Hostel

Hallo semuanya, udah lama banget gue gak nulis di blog ini. Kali ini gue mau sharing tentang pengalaman backpacking bulan Juli yang lalu. Jadi ceritanya gue dan teman kantor gue, sebut saja oknum C, iseng buat nyari tiket promo ketika ada Garuda Online Travel Fair 2017. Singkat cerita, akhirnya gue dan C berhasil dapat tiket promo dengan destinasi Singapura pada tanggal 13-16 Juli 2017.

Sebelumnya, rencana gue dan oknum C berangkat di bulan Juli ini hampir aja tertunda karena ada sedikit permasalahan dengan paspor gue (baca cerita gue tentang paspor di tulisan gue lainnya). Oleh karena itu gue dan C waktu itu sama sekali gak membuat itinerary yang jelas sebelum dekat-dekat hari keberangkatan. Mulai dari tiket tempat wisata yang ingin didatangi, penginapan, uang, dan transport kita urus pada saat hari keberangkatan.

Perjalanan gue dan C tergolong perjalanan yang kocak dan unforgettable karena kelakuan, tingkah, dan segala macam kekonyolan yang kami lewati mulai dari drama sebelum keberangkatan sampai hari-hari disana dan kepulangan kami kembali ke Jakarta.

Gue dan oknum C berangkat pada hari kamis 13 Juli 2017 sepulangnya dari kantor pada jam 5 sore. Karena pesawat kami harus take-off jam 6.30 WIB, gue dan C agak sedikit worry dijalan, takut ketinggalan pesawat, tapi syukurnya jalanan menuju bandara waktu itu termasuk yang ramai lancar. Kami tiba di bandara dan langsung bergegas untuk check-in dan menuju pesawat yang sebenarnya sudah siap untuk berangkat dan hanya tinggal menunggu beberapa penumpang yang belum masuk yang salah dua dari penumpang-penumpang tersebut adalah gue dan C.

Perjalanan dari Jakarta menuju Singapura ditempuh kurang lebih selama 1 jam 30 menit. Waktu di Singapura itu satu jam lebih cepat dari Jakarta, ya satu waktu lah ya sama Banjarmasin dan Bali nyehehe (abaikan). Kami tiba di terminal 3 Changi International Airport sekitar jam 8.30 waktu setempat. Sesampainya di bandara kami langsung mengikuti semua proses yang ada, mulai dari mengisi kartu kedatangan, masuk ke imigrasi, dan yuhuuuuu backpacking kami pun dimulai!

Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di Singapura adalah mengaktifkan simcard dan paket data. Di bandara ada beberapa toko yang menawarkan simcard dengan berbagai pilihan paket data selama kita berada di Singapura. Harga yang ditawarkan mulai dari 15 SGD dengan paket data 15GB dan beberapa pilihan lainnya. Memang harga tersebut tergolong lebih pricey dibandingkan ketika kita membeli simcard di 7 eleven atau minimart lain di Singapura, tapi karena kami butuh ya lebih baik kami beli saja daripada harus nyari-nyari lagi. Sebenarnya yang beli simcard tersebut hanya oknum C karena gue sebelumnya sudah mengaktifkan paket data dengan simcard Indonesia beberapa jam sebelum keberangkatan.

Singkat cerita setelah membeli paket data, kami melanjutkan perjalanan malam itu menuju hostel yang telah kami booking melalui Traveloka (bukan iklan loh ya). Kami menuju stasiun MRT Changi yang kebetulan letaknya mudah ditemukan hanya dengan berjalan mengikuti penunjuk arah “Train to City” dari terminal 3. Kami memutuskan untuk membeli EZ-link card seharga 12 SGD dengan isi 7 SGD. Sebagai informasi untuk kalian yang mau jalan-jalan di Singapura beberapa hari dengan menggunakan MRT, kalian bisa membeli Singapore Tourist Pass (STP) atau EZ-link card ini di stasiun-stasiun MRT di Singapura. STP atau EZ-link card ini sama dengan e-money di Indonesia. Kedua kartu ini bisa digunakan untuk menaiki MRT dan bus selama di Singapura. Cara penggunaannya tinggal di-tap ke mesin sebelum kita memasuki stasiun dan memasuki bus.

Selanjutnya, berbekal dengan peta yang kami minta di loket MRT Changi dan googling (internet memudahkan perjalananmu), gue dan C segera menuju hostel yang terletak di kawasan Lavender. Nama hostel ini adalah Meadows Hostel yang terletak di 7A Hamilton Road. Kami menaiki MRT dari Changi pada jam 9.44 dan turun di stasiun MRT Tanah Merah. Dari stasiun MRT Tanah Merah kami melanjutkan perjalanan menggunakan rute MRT ke arah Joo Koon (line hijau) dan turun di stasiun MRT Lavender. Perjalanan menggunakan MRT di Singapura ini tergolong cepat, waktu menunggu MRT-nya pun tidak begitu lama dan sesuai dengan informasi.

Sesampainya di stasiun Lavender, gue dan C yang sebelumnya tidak tahu menahu tentang kota ini mencoba berjalan keluar stasiun dalam keadaan lelah, haus dan lapar. Di sekitar stasiun terlihat beberapa toko makanan dan MCD yang buka 24 jam. Sayangnya, setelah melihat poster Burger King seharga 5 SGD, kami mengurungkan diri untuk membeli makanan pada malam itu, karena gue dan C adalah backpacker yang hemat wkkwkk.

Awalnya gue dan C berjalan keluar stasiun MRT Lavender dan berjalan kearah kanan stasiun (atas petunjuk dari gue yang memang kalau lagi cape dan malam udah gak konsen kalau baca peta). Tapi ternyata jalan yang kita lewati semakin menjauh dari posisi hostel yang sebenarnya berjarak kurang lebih 400 meter dari stasiun. Gue dan C memutuskan untuk bertanya kepada orang yang lewat dijalan dan sebenarnya orang yang kami tanyapun kurang tau, dia hanya mengarahkan sesuai dengan peta yang kami tunjukan (waktu itu arahan dari aplikasi Waze, kami harus berjalan ke arah Sultan Road). Menyadari hal tersebut, gue dan C memilih berbalik arah dan berjalan menuju stasiun kembali, memilih jalan kearah kiri menuju Horne Road sesuai dengan yang google map arahkan. Letak stasiun MRT Lavender ini ternyata berada sangat dekat dengan V Hotel Lavender. Belakangan setelah satu malam disana, gue dan C sudah mulai ngeh bahwa dari hotel ini tinggal turun lift, sudah bisa sampai ke dalam stasiun MRT Lavender (tanpa harus jalan menuju eskalator). Disepanjang Horne Road, kami menjumpai bangunan-bangunan seperti pertokoan dan tempat makan seperti di kawasan Pasar Festival atau Setiabudi One di Jakarta, ya lebih gelap dikit lah ya, lebih sepi karena suda malam juga mungkin. Ini subjektif menurut gue doang sih. Disana terdapat beberapa restoran cepat saji dan minimart seperti 7 eleven, toko buah, perkantoran, florist, cafe, stadium, dan tempat parkir mobil yang luas banget terdiri dari beberapa tingkat. Gue dan C yang kehausan memustuskan untuk melipir ke 7 eleven untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan. Oh iya oknum C juga membeli sikat gigi seharga 3 SGD yang menurut kami itu adalah sebuah pemborosan wkkwkk.

Bagian depan Meadows Hostel. Foto ini diambil ketika siang hari.

Bagian depan resepsionis Meadows Hostel.

Hiasan yang terletak dibagian dinding, dekat resepsionis.

Beberapa foto instax pengujung yang pernah menginap di Meadows hostel, ditempel sebagai hiasan dinding hostel.
Selanjutnya kami meneruskan perjalanan dan sampai di hostel sekitar jam 12 malam. Pada saat kami sampai, terlihat beberapa backpacker berbahasa mandarin yang baru sampai juga. Hostel ini rupanya berbentuk seperti bangunan tingkat yang memiliki beberapa lantai. Bagian resepsionisnya terletak di lantai 1. Kami harus menaiki tangga untuk mencapai resepsionis dan melakukan check-in. Pada saat check-in, kami diminta untuk memberikan deposit 10 SGD untuk selimut, handuk dan bantal yang nanti ketika check-out deposit tersebut akan dikembalikan. Setelah check-in, kami diarahkan menuju kamar yang berada selantai dengan resepsionis. Kondisi kamar waktu itu dalam keadaan lampu yang dimatikan karena memang sudah jamnya untuk tidur. Dibagian tengah terdapat sekumpulan koper dan tas-tas para backpacker yang sudah lebih dulu tiba. Selanjutnya gue dan C memasukan tas kami kedalam laci yang tersedia disetiap bagian bawah pod. Hostel yang kami pilih ini menyediakan tempat tidur berbentuk pod dormitory. Kami sengaja memilih hostel yang kasurnya berbentuk pod untuk menjaga privasi dan perasaaan lebih aman, mengingat kamar yang kami dapatkan adalah untuk yang mix dormitory. Ini adalah kali pertama gue dan C menginap di hostel yang berbentuk pod. Satu pod ini bisa ditempati maksimal oleh dua orang saja. Di Meadows Hostel ini juga tersedia pod yang khusus untuk satu orang (single pod) serta kamar yang untuk keluarga dengan bentuk pod juga tentunya. Setiap pod ini memiliki kasur, lampu, colokan, dan gantungan handuk didalamnya. Setiap pod bisa ditutup dengan gorden yang terdapat dibagian depannya. Nah, gue dan C mendapatkan pod bernomor 1 dan ternyata letaknya ada diatas pod nomor 2. Alhasil gue dan C harus memanjat tangga dikeheningan malam kamar waktu itu. Belum lagi suara laci kami yang susah ditarik sempat mengusik backpacker lainnya yang tidur dan podnya ada diatas laci kami wkkwkk. Setelah berhasil memasuki pod nomor 1, gue dan C langsung bergegas untuk tidur dan mengisi baterai gadget kami selama tidur. Informasi lagi untuk kalian yang pergi keluar Indonesia, ada baiknya membawa colokan universal yang bisa diganti-ganti kakinya, misalnya ketika ke Singapura, umumnya colokan disini bentuknya kaki tiga. Selain bawa colokan universal gue juga membawa kabel stopkontak, biar ngecharge gadgetnya bisa sekalian banyak.

Bersambung.

Meadows Hostel Singapore
Alamat: 7 Hamilton Rd, Singapore 209178
Telp: +65 6298 1323
Tarif: lihat Traveloka, Agoda, Pegipegi, Tripadvisor, Booking.com dan website-website sejenisnya.

Snapshoted by Dina H.
Fujifilm XA-1
Fujifilm X-70

Tuesday, February 3, 2015

Cimory Riverside

Hari minggu kemarin, mengawali Februari 2015 gue berkesempatan untuk menjelajah kota Bogor, tepatnya jalan-jalan ke kawasan Puncak untuk mencoba satu tempat yang lagi happening banget, Cimory Riverside. Cimory Riverside ini merupakan tempat yang pas untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman. Lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Puncak, sangat strategis dan dapat langsung terlihat oleh mata ketika kita melintasi kawasan tersebut.

Gue berangkat dengan seorang teman, sebut saja oknum D dari Jakarta menggunakan KRL Commuter Line pada jam 9 pagi dari stasiun Duren Kalibata menuju stasiun Bogor dengan memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah sampai stasiun Bogor, kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot 02 jurusan Bubulak – Sukasari (warna hijau strip orange dibagian bawah), turun di Sukasari. Dari Sukasari lanjut naik angkot 02 jurusan Cisarua (warna biru) dan turun di depan Cimory Riversid. Sekitar jam 11 kurang akhirnya gue sampai. Perjalanan dari Sukasari ke Cimory Riverside ini memakan waktu kurang dari satu jam karena situasi jalan yang lancar dan tidak macet. Posisi Cimory Riverside ada diseberang jalan (sebelah kanan jalan) ketika turun dari angkot

Cimory Riverside (Front)
Meskipun hujan ternyata Cimory Riverside ini tetap saja ramai dipadati pengunjung. Sesampainya disana gue langsung menuju Cimory Restaurant untuk mencoba makanan yang tersedia disana. Cimory resto ini memiliki beberapa posisi table untuk makan, ada di lantai bagian atas dan bagian bawah. Di bagian atas kita bisa memilih untuk makan didalam atau yang langsung berhadapan dengan view alam dan sungainya. Begitu juga di lantai bawah, kita dapat menikmati makanan sambil menikmati pemandangan alam yang tersedia. Saking ramainya, table yang tersedia juga sedikit dan untuk mendapatkan posisi makan yang bagus, gue dan oknum D harus bersedia masuk waiting lists. Menunggu sebentar, akhirnya kami mendapatkan table, meskipun tidak terlalu sesuai dengan harapan juga sih, nyahaha.

Cimory Resto

Cimory Resto lantai atas bagian dalam, tetap bisa melihat pemadangan walaupun duduk disini

Cimory Resto lantai bawah

Cimory resto lantai atas dari sudut yang berbeda

Setelah itu gue dan oknum D memesan makanan. Menu makanan yang tersedia disana mulai dari snack hingga makanan berat. Sebenarnya ada banyak makanan yang ingin gue coba, tapi karena pagi waktu berangkat gue cuman sarapan roti, akhirnya pesanan gue tertuju pada menu yang ada nasinya. Gue memesan paket nasi plus iga bakar (IDR 49.9) dan segelas teh manis hangat (IDR 8). Oknum D memesan nasi plus sop iga (49.9) dan segelas teh hangat (IDR 8) juga. Next time kalau gue kesini lagi, gue akan mencoba menu sausage yang ada serta menu-menu lainnya. Untuk harga makanan di resto ini, memang terkesan cukup mahal, tapi jika dibandingkan dengan suasana dan pemandangan yang diberikan, menurut gue masih wajar dan pas-pas saja.

Iga Bakar, Nasi, dan Teh Manis Hangat
Sop Iga, Nasi, dan Teh Manis Hangat

Selesai menikmati makanan, gue dan oknum D memilih untuk berkeliling dan berfoto di spot-spot yang menarik di sekitar Cimory Riverside. Kemudian berburu cokelat di Chocomory. Chocomory adalah bagian dari Cimory yang menjual berbagai macam makanan berbahan dasar coklat. Buat pecinta coklat dan matcha, gue saranin buat bawa duit yang lebih sekedar buat beli coklat atau matcha karena disinilah surganya coklat dan matcha. Karena gue suka green tea, sudah pasti disini gue membeli makanan yang ada matchanya.
Chocomory

Matcha Bar. Favorit gue (surga matcha disini nyahaha)
Varian olahan coklat di Chocomory
Cornflakes Rocher
Lollypop Duo
Lollypo Matcha (salah satu favorit gue)
Lollypop Marsmallow
Cashew Bar
Crispy Matcha (seperti rice cracker, rasanya green tea, favorit gue juga)
Hot chocolate (wajib buat dibawa pulang, bagi pecinta hot chocolate)
Another view di chocomory
Chocolate stick, ada yang rasa matcha juga lho





Cakes

Ada juga Le Mory. Sebuah spot yang disediakan agar pengunjung dapat membeli berbagai macam makanan (selain coklat). Disini tersedia aneka snack untuk oleh-oleh seperti keripik, bolu, permen, susu sapi, soya, yoghurt, sosis, ice cream dll yang diproduksi oleh Cimory. Kemudian ada pula spot yang menjual milk pao / milk mantau dan ada Souvenir Shop yang menjual berbagai macam souvenir seperti boneka-boneka sapi dan pernak-pernik khas Cimory lainnya. Selain Restaurant, Chocomory, dan Souvenir Shop di Cimory Riverside ini juga tersedia fasilitas yang cukup lengkap seperti tempat bermain untuk anak-anak, toilet yang bersih, dan mushola.

Keripik dan cemilan untuk di rumah atau sebagai oleh-oleh
Ice Cream
Aneka Cookies
Almond Cookies (baru di Cimory) and other cookies

 Aneka keripik dan cemilan
Milk Pao/ Milk Mantau
Souvenir Shop
Wahana bermain anak-anak
Setelah puas berkeliling, membeli beberapa cokelat matcha dan berfoto, akhirnya gue dan oknum D pulang sekitar jam setengah 4. Keluar dari Cimory Riverside, jalan arah menuju Puncak ternyata sudah ditutup, dikenakan sistem satu arah. Beruntung karena arah turun yang dibuka dan gue bisa langsung pulang menuju stasiun Bogor. Rute yang ditempuh masih sama seperti saat berangkat, dari depan Cimory Riverside, gue dan oknum D langsung naik angkot 02 dari Cisarua (warna biru) menuju Sukasari dan melanjutkan perjalanan dari Sukasari dengan angkot 02 jurusan Bubulak-Sukasari, turun di Stasiun Bogor. Sekitar jam setengah 7 gue dan oknum D sampai di Jakarta.

Pemandangan alam dan sungai di Cimory Riverside
 Untuk kalian yang bingung mau kemana saat libur atau weekend, gue rasa Cimory Riverside merupakan pilihan yang cocok dan tepat untuk dikunjungi bersama keluarga, sahabat, atau kerabat kita (bahkan sendiri juga tidak masalah). Suasana yang disuguhkan sudah cukup untuk memberikan kita sesuatu yang fresh setelah menjalani berbagai rutinitas baik di sekolah, kampus, maupun kantor. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari kawasan Jakarta dan sekitarnya sehingga tidak perlu bingung untuk mencari cara bagaimana bisa pergi kesana. Bagi yang memiliki kendaraan pribadi bisa menggunakan mobil sendiri atau rame-rame dengan teman. Bagi yang memanfaatkan transportasi umum juga bisa kesana dengan naik kereta, bus, atau angkot. Jadi, tunggu apalagi? Yuk coba ke Cimory Riverside!

Cimory Riverside
Alamat : Jalan Raya Puncak
Jam Buka : Minggu - Sabtu 08 am - 10 pm
Telepon : 0251 - 8252678

Pictures snapshoted by Dina H.
Fujifilm X-A1